pembelajaran calistung


ELAJAR BACA TULIS HITUNG "CALISTUNG"

Teori psikologi perkembangan Jean Piaget selama ini telah menjadi rujukan utama kurikulum di Taman Kanak-Kanak dan bahkan pendidikan secara umum. Pelajaran membaca, menulis dan berhitung dilarang d ajarkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun.Pieget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret.Fase ini adalah fase dimana anak-anak di anggap sudah bisa berfikir secara terstruktur,sehingga tidak cocok di ajarkan kepada anak TK yang masih balita


            Pieget khawatir anak-anak akan terbebani jika pelajaran calistung diajarkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun.Alih-alih ingin mencerdaskan anak,akhirnya anak -anak malah memiliki persepsi yang buruk tentang belajar setelah mereka beranjak dewasa.

            Pesan yang di tangkap dari teori pieget seringkali berhenti pada larangan berhitung,namun tidak banyak orang memahaminya alasannya.Padahal perkembangan dalam pembelajaran di era reformasi ini sebenarnya sudah semakin jauh berubah.

            Topik pelajaran bukanlah persoalan yang akan menghambat seseorang ,pada usia berapapun untuk mempelajarinya .Syaratnya hanyalah mengubah cara belajar,yang disesuaikan dengan kecendrungan gaya belajar dan usia masing-masing sehingga terasa menyenangkan dan membangkitkan minat untuk terus belajar.Belajar membaca menulis dan berhitung bahkan sains jangan dianggap tabu bagi anak-anak.Persoalan pentingnya adalah merekonstruksikannya cara untuk mempelajarinya sehingga anak-anak mengganggap kegiatan mereka tak ubahnya seperti permainan dan memang berbentuk sebuah permainan.


            Merujuk pada temuan Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk ,sesungguhnya pelajaran calistung hanyalah sebagian kecil pelajaran yang di peroleh anak-anak .cara memandang calistung semestinya juga sama dengan cara kita memandang pelajaran lain sepertimotorik dan kecerdasan bergaul ataupun musikal.

            Tidak bisa kita saling menyalahkan mana yang benar mana yang salah,tetapi hendaklah kita mencari solusi bagaimana mengajarkan membaca,menulis dan berhitung bagi anak-anak usia taman kanak-kanak.Bagaimana kita bisa menyuguhkan atau mencari metode mengajar calistung bagi anak usia dini.sebelum kita membahas tentang metode apa sih,yang cocok untuk mengajarkan anak-anak belajar calistung kita kupas dulu apa sih pengertian membaca,menulis dan berhitung serta perbedaannya.

            Membaca adalah mengucapkan huruf demi huruf yang disambung sehingga membentuk kata.Menulis adalah gerakan tangan membentuk huruf/angka.jadi perbedaan dari membaca dan menulis adalah kalau membaca ranah untuk melatih bahasa karna menggunakan ucapan sedangkan menulis adalah ranah untuk melatih psikomotorik halus.


            Bagaimana sih kiat-kiat mengajarkan membaca,menulis dan berhitung bagi anak -anak apakah kita mengajarkan seperti halnya anak dewasa,wah..wah..wah kalau kita mengajarkan  seperti anak dewasa bisa berakibat fatal,anak-anak akan kehilangan gairah untuk belajar karna di anggap pelajaran itu sulit dan tidak menyenangkan.Sesungguhnya belajar calistung bisa membaur dengan kurikulum TK tanpa membuat anak-anak terbebani.


Adakalanya tidak diperlukan waktu atau momentum untuk khusus untuk mengajarkan calistung,kita bisa memasang poster-poster di dinding ruangan kelas huruf-huruf dengan warna yang menarik  dan mencolok sehingga menggugah rasa ingin tahu anak untuk membaca dan melihat.setiap satu atau dua minggu kita bisa ganti dengan gambar-gambar yang menggunakan kata-kata yang baru sehingga dalam waktu satu tahun anak -anak sudah mempunyai perpendaharaan kata yang banyak.


Demikian juga halnya dengan belajar berhitung,mengenalkan jumlah benda lebih penting dari pada menghafal angka,yang nanti anak-anak terlatih dengan sendirinya mengenal angka,dan hal ini sangat mudah di ajarkan kepada anak usia dini.Gambar berbagai benda berikut lambang bilangannya bisa kita tempel di dinding,guru bisa berkeliling sambil bernyanyi memperkenalkan angka dan bilangan.


Lewat kegiatan-kegiatan sederhana yang diulang setiap hari,semakin lama amnak-anak itu mengalami kemajuan pesat.mereka nantinya bisa membaca dan menulis dengan sendirinya tanpa ada beban pada usia dini. Kita dapat membuat alat-alat bermain untuk belajar membaca dengan menggunakan kertas karton untuk membuat kartu huruf  setiap huruf kita tulis diatas potongan-potongan karton yang telah kita potong dengan rapi.Demikian juga dengan angka -angka kita bikin kartu angka dan kita gambar beberapa benda lalu anak mencocokan jumlah benda dengan angka.


  Maria Montessori dan Glenn Doman menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan menghitung bagi anak-anak usia dini.Maria Montessori  adalah seorang dokter wanita pertama dari Italia,telah mempraktikan pembelajaran multiindrawi lewat kegiatan sehari-hari.Pengalaman itu di perolehnya setelah menangani anak-anak bermental terbelakang. Lewat kegiatan-kegiatan sederhana yang di ulang setiap hari ,sebagian besar anak-anak mengalami kemajuan pesat .Mereka bahkan bisa membaca dan menulis pada usia yang relatif muda,sekitar 4 dan 5 tahun tanpa harus terbebani.


 belajar dari benda-benda yang akrab di sekeliling kita.Ia membuat alat belajar seperti perlengkapan bermain.Untuk mengajar anak-anak membaca,ia membuat berbagai macam kartu huruf dari papan kayu atau kertas tebal ,setiap huruf di cetak. Mencari solusi bagaimana cara mengajarkan calistung kepada anak lebih bagus dari pada kita menyalahkan pelajaran calistung untuk anak usia dini.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan investasi yang amat besar bagi keluarga dan bagi bangsa. Anak-anak kita adalah generasi penerus keluarga dan sekaligus penerus bangsa. Betapa bahagianya orangtua yang melihat anak-anaknya berhasil, baik dalam pendidikan, dalam berkeluarga, dalam masyarakat, maupun dalam karir. Pentingnya pendidikan anak usia dini tidak perlu diragukan lagi. Para ahli maupun masyarakat umum lazimnya sudah mengakui betapa esensial dan pentingnya pendidikan yang diberikan kepada anak-anak usia dini. Tokoh-tokoh dan para ahli seperti Pestalozzi, Froebel, Montessori, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain merupakan contoh dari sekian tokoh yang sangat peduli terhadap pendidikan anak usia dini.
             Demikian pula dengan semakin maraknya pendirian lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini baik pada jalur formal, nonformal, bahkan informal yang sebagian besar didirikan oleh masyarakat menunjukkan betapa semakin pedulinya masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan anak usia dini ini. Oleh karena itu PAUD sangat penting bagi keluarga untuk menciptakan generasi. Secara umum kepedulian para ahli dan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan anak usia dini didasarkan pada tiga alasan utama. Ketiga alasan tersebut menurut Solehuddin (1997) adalah:
a.    Dilihat dari kedudukan usia dini bagi perkembangan anak selanjutnya, banyak ahli yang mengatakan bahwa usia dini atau usia balita merupakan tahap yang sangat dasar/fundamental bagi perkembangan individu anak. Santrock dan Yussen (1992) menganggap usia dini merupakan masa yang penuh dengan kejadian-kejadian yang penting dan unik yang meletakkan dasar bagi seseorang di masa dewasa. Sementara itu Fernie (1988) meyakini bahwa pengalaman-pengalaman belajar awal tidak akan pernah bisa diganti oleh pengalaman-pengalaman berikutnya, kecuali dimodifikasi.
b.    Dipandang dari hakikat belajar dan perkembangan, bahwasanya belajar dan perkembangan merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Pengalaman belajar dan perkembangan awal merupakan dasar bagi proses belajar dan perkembangan selanjutnya. Temuan Ornstein (Bateman, 1990) tentang fungsi belahan otak menunjukkan bahwa anak yang pada masa usia dininya mendapat rangsangan yang cukup dalam mengembangkan kedua belah otaknya akan memperoleh kesiapan yang menyeluruh untuk belajar dengan sukses/berhasil pada saat memasuki SD. Selain itu, Marcon (1993) menjelaskan bahwa kegagalan anak dalam belajar pada awal akan menjadi tanda (prediktor) penting bagi kegagalan belajar pada kelas-kelas berikutnya. Begitu pula, kekeliruan belajar awal bisa menjadi pengahambat bagi proses belajar selanjutnya.
c.    Alasan yang ketiga ini terkait dengan tuntutan-tuntutan yang sifatnya non edukatif yaitu tuntutan yang tidak terkait dengan hakekat penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana mestinya. Misalnya orangtua memasukkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan anak usia dini karena orang tua sibuk daripada anak-anak di rumah ditinggalkan tanpa kegiatan lebih baik dititipkan di lembaga pendidikan anak usia dini, dan lain-lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MY DAILY ACTIVITY " MIRTA"

ASAL-USUL YOGYAKARTA